Minggu, 21 April 2013

HOMOSEKSUAL


DINAMIKA PSIKOLOGIS SEORANG GAY
Studi Kasus pada Pelaku Gay

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana dinamika psikologis pada pelaku gay dan bahasa gaul yang digunakan para pelaku gay dalam komunitasnya.  Subyek dalam penelitian ini adalah pada pelaku gay berusia 26 tahun berstatus seorang mahasiswa. Metodologi dalam penelitian ini adalah studi kasus, dengan melakukan observasi, wawancara, dan dokumentasi pada subjek penelitian. Sedangkan teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis dan interpretasi data Stevick-Colaizzi-Keen yang telah dimodifikasi oleh Moustakas. Adapun teknik verifikasi data dilakukan dengan menggunakan triangulasi data. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dinamika psikologis dari subjek yang merupakan pelaku Gay adalah adanya perkembangan psikologis dari aspek orientasi seksual, perilaku seksual, serta identitas seksual. Selain memiliki dinamika psikologis, peneliti juga menemukan adanya bahasa gaul pada komunitas homoseksual.
Kata Kunci : Gay, Dinamika Psikologis, Bahasa Gaul.

ABSTRACT
This research aims to find out how the psychological dynamics of a gay, and language or slang which used by gay in their community. The subjects in this study is on a 26 years old gay actors as a student of university. The methodology in this study is a case study, by observation, interviews, and documentation on the subject. While the data analysis techniques used are the techniques of data analysis and interpretation Stevick-Colaizzi-Keen have been modified by Moustakas. As for data verification technique using triangulation of the data. The results of this research show that the psychological dynamics of the subject which is the Gay actors is the development of the psychological aspects of sexual orientation, sexual behavior and sexual identity. In addition to having the psychological dynamics, researchers also found the presence of language and the term Slang in homosexual communities.

Key Words : Gay, Psychological Dynamics, Slang.

Pendahuluan
Homoseksualitas adalah salah satu dari tiga kategori utama orientasi seksual, bersama dengan biseksualitas dan heteroseksualitas, dalam kontinum heteroseksual-homoseksual. Homoseksual yang diperuntukkan antara laki dengan laki biasa disebut gay. (Wikipedia, 2012)
Homoseksualitas adalah rasa ketertarikan romantis dan/atau seksual atau perilaku antara individu berjenis kelamin atau gender yang sama. Sebagai orientasi seksual, homoseksualitas mengacu kepada "pola berkelanjutan atau disposisi untuk pengalaman seksual, kasih sayang, atau ketertarikan romantis" terutama atau secara eksklusif pada orang dari jenis kelamin sama, "Homoseksualitas juga mengacu pada pandangan individu tentang identitas pribadi dan sosial berdasarkan pada ketertarikan, perilaku ekspresi, dan keanggotaan dalam komunitas lain yang berbagi itu." (Sexual Orientation, Homosexuality dan Bisexuality, 2010)
Kaum gay memiliki ciri-ciri yang membantu mereka untuk mengenali dan dikenali dengan sesama gay dan di dalam masyarakat. Gay lebih menyukai mengenakan pakaian ketat, karena dapat memperlihatkan lekuk tubuh si pemakai. Bagi gay, lekukan tubuh merupakan daya jual tersendiri. Gay lebih senang memakai warna mencolok. Dalam berkomunikasi gaya bicaranya pun lebih feminim dan perhiasan yang dikenakannya pun cenderung “ramai”. Bahkan itu merupakan alat komunikasi sesama gay. Ciri lainnya adalah selalu tertarik pada aktivitas yang biasanya dilakukan wanita. (Danis, 2011) Adanya gaya bicara yang khusus dalam berkomunikasi antar pelaku gay juga ditemukan dalam penelitian David Sonenschein (1969) yang dilakukan pada Komunitas homoseksual di salah satu kota di barat daya Amerika Serikat, memberikan kesimpulan bahwa bahasa yang bersifat khusus adalah salah satu cara utama di mana kelompok dapat membantu pola dan memberikan makna terhadap pengalaman anggotanya.
Berdasarkan dari penelitian yang ditulis oleh Christa Rohde-dachser pada tahun 1992, dikatakan bahwa laki-laki lebih cenderung terkena penyakit HIV/AIDS, apalagi mereka seorang homoseksual yang melakukan sex antara laki-laki dengan sesama jenisnya, karena berdasarkan penelitian yang ditulis oleh Lil Penkhower, PHd. pada tahun 1991 juga mengatakan bahwa Hasilnya secara empiris menunjukkan bahwa individu-individu yang terlibat dalam seks yang beresiko dan peminum berat atau pengguna narkoba, memiliki kecenderungan terkena penyakit HIV/AIDS.
Data Departemen Kesehatan Republik Indonesia hingga Juni 2012 melaporkan bahwa jumlah orang yang terinfeksi HIV dari Januari sampai Juni 2012 adalah 9.883 orang, sedangkan jumlah AIDS adalah 2.224 orang. Kasus kematian pada tahun 2012 karena HIV/AIDS dilaporkan 5623 orang. Di sisi lain, data dari KAP (Key Affected Population), menunjukkan bahwa laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL) yang terinfeksi HIV/AIDS meningkat menjadi 13% pada tahun 2008. Departemen kesehatan tahun 2008 menyebutkan, dari kumulatif 15.210 penderita HIV/AIDS 54% adalah remaja. Hal serupa terjadi di Malang dimana prevalensi HIV/AIDS sangat signifikan. Data IBBS 2007, menyatakan bahwa prevalensi HIV/AIDS pada komunitas LSL sebesar 5,6%. Selain itu, prevalensi Sifilis sebesar 4%, prevalensi Gonore dubur sebesar 14,9%, dan prevalensi Chlamydia rektal 21,3%. (“Dampak Self Stigma terhadap Perilaku Beresiko Penularan HIV/AIDS pada GWL Muda di Malang, Indonesia”, 2013)
Belakangan ini kaum homoseksual khususnya kaum gay semakin berani untuk mengungkapkan keberadaan atau eksistensinya dalam masyarakat, hal ini ditandai dengan informasi-informasi yang berkembang di media massa tentang berita yang menceritakan kehidupan kaum gay sehingga menyebabkan berkembangnya kelompok-kelompok atau komunitas sebagai wadah aktualisasi yang dapat menampung aspirasi dan kreatifitas dari kaum yang dianggap marginal ini. (Danis, 2011)
Sebenarnya komunitas gay sudah lama terbentuk di Indonesia. Pada tahun 1969 Himpunan Wadam Djakarta (HIWAD) merupakan kelompok yang menaungi kaum homoseksual di Jakarta, disusul dengan LAMBDA pada tanggal 1 Maret 1982 merupakan organisasi gay pertama yang terbuka di Indonesia bahkan di Asia dengan sekretariat yang berada di Solo, dengan waktu yang singkat terbentuklah cabang-cabangnya di Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, dan tempat-tempat yang lain. Akibat dari munculnya organisasi LAMBDA, pada tahun 1992 terjadi ledakan berdirinya organisasi-organisasi gay di Jakarta, Bandung, Pekanbaru, dan Denpasar, dan tahun 1993 menyusul di Malang dan Ujungpandang. (Lihat http://www.eramuslim.com/berita/analisa/ tentang di-balik-keberanian-kongres-gay-di-surabaya.htm Oleh anonym Diakses pada tanggal 11 April 2010).
Maraknya dibentuk komunitas-komunitas yang mewadahi aktualisasi kaum gay di kota-kota besar seperti yang telah digambarkan di atas, membawa pengaruh juga pada sekelompok kaum gay di Malang untuk membuat sebuah komunitas yang formal yang bertajuk Ikatan Gay Malang atau IGAMA. Menurut data yang peneliti peroleh dari Awal pembentukan organisasi ini dipelopori oleh Yoseph Abilsana yang dibantu oleh beberapa rekan-rekan sehati di Malang. Pada waktu itu ada sekitar dua belas (12) aktivis seperti Yoseph Abilsana, Didiet, Bram, Didiek, Angga, Adjie, dan yang lainnya secara bersama-sama berjuang untuk mendirikan organisasi untuk rekan-rekan yang memiliki kesamaan persepsi dan pandangan terhadap masalah kesehatan laki – laki. (Danis, 2011)
Atas dukungan Dede Oetomo pendiri Gaya Nusantara (GN) Surabaya, akhirnya diresmikanlah organisasi IGAMA yang bertepatan dengan tanggal 01 April 1993. Akhirnya, secara resmi IGAMA didaftarkan ke Pengadilan Negeri Malang lewat notaris Sja'bany Bachry, SH yang berkedudukan di Jalan Mojopahit 3-A Malang dengan nomor Akte No. 32 Tanggal 27 Agustus 2002 oleh empat serangkai aktivis IGAMA (Mamad, Syaiful, Koko dan Henry). (Danis, 2011)



Kerangka Kerja Teoretik
Penyebab Seseorang Menjadi Gay:
1.   Teori Biologis : Perbedaan adalah sesuatu yang dibawa lahir
Banyak  gay  yang menyatakan bahwa orientasi seksual yang dimiliki adalah hasil yang muncul dari  faktor biologis, sehingga mereka idak memiliki kendali ataupun pilihan terhadap orientasi seksualnya.
Menurut pandangan  biologis penyebab seorang pria menjadi  gay adalah: 
a)     Faktor Genetik
Kallman (dalam Maters, 1992), melaporkan bahwa kondisi homoseksualitas adalah kondisi genetik. Kesimpulan ini diambil dari penelitian yang dilakukan terhadap kembar yang identik dan kembar fraternal. Penelitian menemukan jika salah satu saudara kembar adalah seorang gay, kemungkinan saudara kembarnya juga adalah seorang  gay. Penelitian lainnya menemukan bahwa  gay  dapat diturunkan, jika dalam sebuah keluarga ada seorang  gay, gay tersebut juga memiliki cenderung memiliki saudara laki-laki, paman atau sepupu yang juga  gay.
b)     Faktor Hormonal 
Menurut teori ini, hormon seks  berperan dalam menentukan orientasi  seksual seseorang (Savin-Williams & Cohen, 1996). Hormon testosteron  ditemukan lebih rendah dan hormon estrogen lebih tinggi pada seorang  gay  (Meyer  et al, dalam Masters,1992). Hasil penelitian lain menemukan  gay  memiliki   tingkat androgen yang lebih rendah dibandingkan pria straight.
c)     Urutan Kelahiran
Berdasarkan penelitian hubungan urutan kelahiran dengan kecenderungan  pria menjadi  gay  ditemukan seorang  gay  cenderung lahir pada urutan terakhir  dengan memiliki saudara  laki -laki tetapi tidak memiliki saudara perempuan (Caroll, 2005).
2. Teori Perkembangan
a)     Pandangan Sigmund Freud
Freud yakin bahwa homoseksualitas merupakan hasil dari kelanjutan predisposisi mengenai manusia yang terlahir dengan keadaan biseksual. Dibawah  lingkungan biasa, psikoseksual berkembang pada masa kanak-kanak yang berhadapan dengan kehidupan heteroseksual, tetapi pada kondisi lingkungan tertentu, perkembangan yang normal mengalami gangguan dalam tahap “ketidakmatangan”, dan menghasilkan homoseksualitas dalam masa dewasa  (Masters, 1992). Freud yakin ada satu tahap dalam perkembangan manusia yang  tertarik kepada jenis kelamin yang sama, dan kebanyakan kaum homoseksual   melewati masa tersebut beberapa tahun sebelum masuk ke dalam masa pubertas  (Savin-Williams & Cohen,1996). Pada homoseksual, perkembangan tersebut  dialami lebih lambat bila dibandingkan dengan orang normal pada umumnya, dan  mengalami  fixasi  dalam tahap ketertarikan kepada jenis kelamin yang sama.  Fixasi  tersebut terjadi karena keadaan ibu yang terlalu dominan, juga karena ayah  yang terlalu dominan. Homoseksualitas juga dapat disebabkan trauma pada masa  kanak-kanak, dimana selama masa kanak-kanak awal mendapatkan penyiksaan  dari saudara kandung, teman bermain ataupun orang dewasa (Cameron dalam  Savin-Williams, 1996).
b)     Bieber’s Model
Bene (dalam Masters, 1996) menyatakan seorang  gay  memiliki hubungan  yang kurang dengan ayahnya dibandingkan dengan pria straight. Greenbal (dalam Masters, 1992) menemukan ayah dari seorang  gay  bersifat dominan, tidak protektif, sementara ibu seorang  gay  memberikan perlindungan dan dominansi yang berlebih-lebihan). Pendapat Marmor (dalam Masters,1992) mengenai  gay, gay  bisa juga muncul dari keluarga dengan kondisi jauh dari ibu, atau ibu yang pemarah, terlalu dekat dengan ayah, tidak memiliki ayah atau ibu yang ideal, dan ketidakberadaan figur ayah atau ibu.
c. Teori Behavioral
Teori behavioral menekankan pada homoseksualitas yang muncul karena  proses belajar (McGuire  et al  dalam Masters, 1992). Homoseksual muncul karena adanya penguatan positif atau  reward  terhadap pengalaman  homoseksualitas dan  hukuman atau penguatan negatif terhadap pengalaman heteroseksualitas.
Masters (1992) menyatakan teori  behavioral  juga menduga pada masa dewasa dini seorang heteroseksual bisa berubah menjadi homoseksual. Menurut Feldmen  dan MacCulloch (dalam Masters, 1992), jika seseorang mengalami pengalaman  heteroseksual yang tidak menyenangkan kemudian mendapatkan penguatan dalam  pengalaman homoseksualitas, ada kemungkinan heteroseksual tersebut akan menjadi homoseksual.
Pria homoseks dikenal dengan sebutan “gay”, dan wanita homoseks dikenal dengan sebutan “lesbi”. Untuk saat ini, kaum gay-lah yang banyak disoroti oleh masyarakat karena perilaku kaum gay terlihat sangat tidak wajar dibandingkan perilaku kaum lesbi. Orang akan menilai wajar apabila melihat dua orang wanita yang saling bergandengan mesra bahkan bila melihat sepasang wanita saling berciuman pipi di tempat umum. Perilaku tersebut akan dinilai lain apabila dilakukan oleh sepasang laki-laki, orang awam akan merasa risih atau heran dengan perilaku mereka, bahkan tak jarang hal ini akan menjadi buah bibir dan bahan cemoohan bagi masyarakat kebanyakan. Meskipun begitu, nampaknya kaum homoseks tidak lagi malu-malu dalam mengakui jati diri mereka, hal ini terbukti dengan berdirinya Kelompok Kerja Lesbian dan Gay Nusantara (KKLGN) pada tanggal 1 Agustus 1987, oleh Dede Oetomo beserta pasangannya Rudy Mustapha. KKLGN menjadi suatu organisasi gay dan lesbi yang bertujuan utama agar kaum gay, lesbi, dan waria dapat diterima sebagai kelompok yang hak dan kewajibannya sama dengan kaum heteroseksual di masyarakat Indonesia. (Danis, 2011)
IGAMA menjadi salah satu organisasi dan komunitas Gay di Malang. Pada awal tebentuknya organisasi ini kegiatan awalnya hanya menjadi wadah bagi komunitas MSM (Men who have Sex with Men) untuk saling mengenal dan bersosialisasi, dengan ragam kegiatan yang terbatas seperti: arisan, acara rekreasi bersama, kegiatan pentas seni dan rapat anggota. Agar bisa diterima oleh semua kalangan dan semua elemen komunitas MSM serta masyarakat akhirnya dipilihlah konsep dengan format dan konsep baru, menjadi sebuah lembaga yang memberikan pelayanan dan support bagi seluruh komunitas MSM dari berbagai elemen dan kelompok, baik yang terbuka ataupun yang tertutup dengan berbagai program kegiatan, dalam kaitannya dengan kesehatan seksual laki-laki (termasuk program penanggulangan HIV/AIDS). (Danis, 2011)
Dampak dari dibentuknya organisasi IGAMA yang telah diakui dan dipantenkan keberadaannya ini membawa pengaruh kepada keterbukaan kaum gay dalam menunjukkan eksistensinya dengan cara mereka membentuk suatu kelompok-kelompok non formal (gang) diantara kaum gay di kota Malang. Seperti gang Bidadari, gang Cantik, gang Lollypop, Keluarga Cendana, Keluarga Kelantan dan lain sebagainya. Kelompok-kelompok ini sebagai wadah untuk sarana interaksi dan komunikasi secara sosial diantara kaum gay yang tergabung di dalam gang tersebut. Dalam kelompok ini mereka juga mengembangkan bahasa-bahasa in group yaitu bahasa yang hanya dimengerti oleh sekelompok orang dalam suatu kelompok, yang diadaptasi dari bahasa gaul yang sudah tercipta sejak lama sebagai identitas dari kelompok atau gang mereka seperti capcus, rumput, lekong dan lain sebagainya. (Danis, 2011)
Berdasarkan gambaran di atas peneliti mempunyai ketertarikan untuk mengetahui dinamika psikologis seorang pelaku Gay yang akan dikaji dari pekembangan orientasi seksual, perilaku seksual, dan identitas seksual. Di samping itu, peneliti juga ingin mengetahui bahasa-bahasa gaul yang gunakan para pelaku gay untuk saling berkomunikasi.
2.  Metode Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan pada seorang laki-laki yang orientasi seksualnya adalah homoseksual, yaitu orang dengan pilihan partner seksual dari jenis kelaminnya sendiri (Masters, 1992). Berdasarkan latar belakang permasalahan, maka peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Studi kasus, seperti yang dirumuskan Robert K. Yin (2008;1), merupakan sebuah metode yang mengacu pada penelitian yang mempunyai unsur how dan why pada pertanyaan utama penelitiannya dan meneliti masalah-masalah kontemporer (masa kini) serta sedikitnya peluang peneliti dalam mengontrol peritiswa (kasus) yang ditelitinya. Penelitian ini akan melibatkan seorang pelaku gay yang berusia 26 tahun yang berstatus sebagai Mahasiswa di salah satu Universitas di kota Malang sebagai responden dan seorang informan yang merupakan teman subjek.
Sesuai dengan sifat penelitian kualitatif yang terbuka dan luwes, teknik pengumpulan data dalam penelitian kualitatif sangat beragam disesuaikan dengan masalah, tujuan penelitian, serta sifat objek yang diteliti. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan wawancara dan observasi. Sedangkan teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis dan interpretasi data Stevick-Colaizzi-Keen yang telah dimodifikasi oleh Moustakas. Adapun teknik verifikasi data dilakukan dengan menggunakan triangulasi data. Dimana dalam pengertiannya triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain dalam membandingkan hasil wawancara terhadap objek penelitian (Moloeng, 2004 : 330)
3.  Hasil Penelitian
Dalam kajian ilmu psikologi, homoseksual sudah bukan lagi merupakan sebuah penyimpangan. Dalam DSM IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder / buku acuan diagnostik secara statistikal dalam menentukan gangguan kejiwaan), tidak ditemukan lagi homoseksual sebagai gangguan kejiwaan dengan alasan bahwa kaum homoseksual tidak merasa terganggu dengan orientasi seksualnya, bahkan bisa merasa bahagia dengan orientasi seksualnya tersebut. DSM adalah buku panduan psikologi dalam menentukan normal tidaknya sebuah perilaku. (http://www.psychologymania.com, 2011)
Sebelumnya pada DSM I (1952) menyatakan bahwa homoseksual adalah gangguan sosio phatik, artinya perilaku homoseksual tidak sesuai dengan norma sosial, sehingga merupakan perilaku yang abnormal. Pada DSM II (1968) menyatakan bahwa homoseksual adalah penyimpangan seks (sex deviation), dipindahkan dari kategori gangguan sosio phatik. Dan pada DSM III (1973) menyatakan bahwa homoseksual dikatakan gangguan jika orientasi seksualnya itu mengganggu dirinya. Dan pada revisi DSM III homoseksual sudah dihapus sebagai sebuah gangguan. Bahkan menurut Robert L. Spitzer (ketua komite pembuatan DSM III saat itu) menyatakan bahwa homoseksualitas tidak lebih dari sebuah variasi orientasi seksual. Tidak lebih dari itu. (http://www.psychologymania.com, 2011)
Banyak hal yang melatarbelakangi Seseorang bisa menjadi pelaku gay. EP adalah salah seorang laki-laki yang menyukai sesama jenis, dia memulai  hubungannya dengan  sesama  jenis dari umur 17 tahun.  Dikaji dari dinamika kejiwaan dan penerimaan dirinya, EP adalah Homoseksual egodisto,  yaitu homoseksual yang dapat memahami keadaan dirinya, memiliki dinamika kejiwaan yang baik, dapat beraktualisasi diri dan tidak terhambat dalam hubungan personal-sosial, pekerjaan, dll.  
Bene (dalam Masters, 1996) menyatakan seorang  gay  memiliki hubungan  yang kurang dengan ayahnya dibandingkan dengan pria straight. Greenbal (dalam Masters, 1992) menemukan ayah dari seorang  gay  bersifat dominan, tidak protektif, sementara ibu seorang  gay  memberikan perlindungan dan dominansi yang berlebih-lebihan). Pendapat Marmor (dalam Masters,1992) mengenai  gay, gay  bisa juga muncul dari keluarga dengan kondisi jauh dari ibu, atau ibu yang pemarah, terlalu dekat dengan ayah, tidak memiliki ayah atau ibu yang ideal, dan ketidakberadaan figur ayah atau ibu. Pendapat Marmor (dalam Masters,1992) sangat membantu dalam memahami penyebab EP menjadi pelaku gay. EP tumbuh menjadi seorang anak yang merasakan ketidakberadaan figur ayah dan ibu, karena kedua orang tua EP sibuk bekerja dari pagi hingga sore hari. Sehari-hari EP lebih sering diasuh oleh bibinya. Hal ini yang membuat EP sulit mengidentifikasi peran dari seorang ayah maupun seorang ibu, sehingga EP memiliki kecenderungan orientasi seksual sebagai homoseksual.
Kecenderungan pada masa kecil EP semakin didukung oleh keadaan kondisi fisik EP yang tidak cukup kuat. Pada waktu kecil, EP pernah didiagnosis mengidap penyakit oesteoporosis. EP tidak bisa melakukan sesuatu hal  yang berat, seperti misalnya olahraga yang maskulin. Sehingga kelemahan kondisi fisik EP membuat efeminimitas (David Sonenschein, 1969) yang ada pada diri EP menjadi semakin kuat.
Dalam penelitian Jameson K. Hirsch & Jon B. Ellis pada tahun 1998, dimana temuan dari hasil penelitian tersebut mengungkapkan kemanjuran diri, harapan, dan keyakinan dalam hidup yang tinggi sebagai seorang homoseksual sebagimana kemanjuran diri, harapan, serta keyakinan tinggi yang dimiliki oleh seorang heteroseksual. EP memiliki keinginan untuk berubah, namun setelah ia mencoba menjalani proses perubahan yang cukup lama, akhirnya EP merasa pasrah dengan apa yang didapatnya saat ini. EP juga memiliki harapan tinggi meski dia pasrah menjalani hidup sebagai pelaku gay. EP masih berharap akan datangnya sebuah hidayah yang dapat merubah dirinya, agar EP bisa mengarungi kehidupan sebagai seorang lelaki sejati.

Dinamika Psikologis
Kata-kata homoseksual ini dapat mengacu pada tiga aspek: Orientasi Seksual, Perilaku Seksual, dan Identitas Seksual (Wikipedia, 2009). Guna mengetahui dan memahami dinamika psikologis dari seorang pelaku gay, peneliti mencoba mengkajinya dengan hal-hal yang terkait dengan pekembangan Orientasi Seksual EP, perkembangan Perilaku Seksual EP, dan perkembangan Identitas Seksual EP. Berikut adalah hasil penelitian dan pembahasan mengenai dinamika psikologis EP:
1.       Orientasi Seksual / Sexual Orientation
Orientasi seksual adalah pilihan sosio-erotis seseorang untuk menentukan jenis kelamin partner seksualnya apakah dari jenis kelamin yang berbeda atau jenis kelamin yang sama (Galliano, 2003; Lips, 2005). Orientasi seksual secara garis besar dapat dibedakan menjadi:
a. Heteroseksual, yaitu orang dengan pilihan partner seksual dari jenis kelamin yang berlawanan (Masters, 1992).
b. Homoseksual, yaitu orang dengan pilihan partner seksual dari jenis kelaminnya sendiri (Masters, 1992).
c. Biseksual, yaitu orang yang tertarik secara seksual baik itu terhadap laki-laki maupun perempuan (Masters, 1992).
Orientasi seksual - homoseksual yang dimaksud disini adalah ketertarikan / dorongan / hasrat untuk terlibat secara seksual dan emosional (ketertarikan yang bersifat romantis) terhadap orang yang berjenis kelamin sama (Adesla, 2009). EP mulai menyadari bahwa dirinya memiliki ketertarikan pada teman laki-lakinya sejak ia masih duduk di bangku SD. Pada saat itu EP tidak dapat leluasa menyalurkan hasratnya, karena selain EP masih kecil, EP juga tidak memiliki banyak ruang untuk bergerak. (Wawancara I, 22 Maret 2013)
American Psychiatric Association (APA) menyatakan bahwa orientasi seksual berkembang sepanjang hidup seseorang. Seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan kehidupan EP, orientasi seksual EP mulai tersalurkan ketika EP menimba ilmu di salah satu perguruan tinggi di kota Malang. Pada tahun 2004 EP mulai menjalin hubungan dengan sesama jenis. (Wawancara I, 22 Maret 2013) EP pun terlibat secara emosional, fisik, seksual, dan cinta pada pasangan gay-nya untuk pertama kali. Hal ini senada dengan apa yang disampaikan Caroll (2005), bahwa  orientasi seksual merupakan ketertarikan seseorang pada jenis kelamin tertentu secara emosional, fisik, seksual, dan cinta.
EP tidak memiliki kecenderungan hasrat atau ketertarikan pada perempuan. EP menjalin hubungan dengan pasangan pertamanya selama 3 bulan, dan itu adalah waktu terlama EP dalam menjalani hubungan dengan pasangannya selama 9 tahun terakhir.  (Wawancara I, 22 Maret 2013)
EP merasa bebas karena telah hidup mandiri di kota orang. EP pun memanfaatkan minimnya pengawasan dari orang tua dan keluarga untuk menjalani kehidupannya sebagai seorang pelaku gay. EP juga merupakan salah satu anggota dari sebuah organisasi gay di Malang, IGAMA. IGAMA adalah organisasi untuk rekan-rekan yang memiliki kesamaan persepsi (gay) dan pandangan terhadap masalah kesehatan laki – laki. (Danis, 2011). Disamping itu, IGAMA juga menjadi salah satu ajang bagi para pelaku gay untuk saling bertemu dan berkenalan, hingga memungkinkan terjadinya hubungan yang lebih lanjut.  EP mengaku bahwa tidak terhitung berapa banyak pasangan dan sudah berapa kali dia melakukan perilaku-perilaku seksual pada sesama jenis.
2.       Perilaku Seksual / Sexual Behavior
Homoseksual dilihat dari aspek ini mengandung pengertian perilaku seksual yang dilakukan antara dua orang yang berjenis kelamin sama. (Adesla, 2009). Dalam hal ini,  dengan enjoy dan terbuka EP mengaku bahwa dia pernah melakukan perilaku-perilaku seksual dengan pasangan gay-nya. (Wawancara I, 22 Maret 2013)
Perilaku seksual menurut Sarwono (2010:174) adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenis maupun sesama jenis. Bentuk-bentuk tingkah laku ini dapat beraneka ragam, mulai dari perasaan tertarik hingga tingkah laku berkencan, bercumbu dan senggama. Objek seksualnya bisa berupa orang lain, orang dalam khayalan atau diri sendiri.
Perilaku seksual merupakan perilaku yang didasari oleh dorongan seksual melalui berbagai perilaku, contohnya adalah berpegangan tangan, berpelukan, cium kering, cium basah, meraba bagian tubuh, petting, oral seksual dan bersenggama (sexual intercourse) (Irawati, 1999)
Nevid, dkk., 1995 (dalam Amalia, 2007:28) mendefinisikan perilaku seks sebagai semua jenis aktifitas fisik yang menggunakan tubuh untuk mengekspresikan perasaan erotis atau perasaan afeksi. Dalam menyalurkan hasrat seksualnya, EP mengaku bahwa dia biasa melakukan seks anal dan seks oral dengan pasangan gay-nya. Perilaku-perilaku tersebut dapat dilakukan ketika orang seperti EP mempunyai keinginan untuk menyalurkan hasratnya (kondisional) ataupun karena untuk memenuhi kebutuhan ekonomi (pekerjaan). Kos, rumah, bahkan warnet pun menjadi tempat biasa bagi EP dan pasangan gay-nya untuk mengekspresikan orientasi seksual dengan perilaku-perilaku seksual tersebut. (Wawancara I, 22 Maret 2013)]

Perilaku seksual EP tidak hanya terlibat sebatas kedekatan fisik saja,  EP juga kadang terlibat secara emosional dengan pasangan gay-nya. EP mengatakan bahwa dia juga pernah merasakan sedih, cemas, ataupun galau ketika sedang memilki masalah dengan pasangan gay-nya. (Wawancara I, 22 Maret 2013) Hal ini semakin mendukung apa yang ditulis Adesla (2009) dalam website-nya, “Human sexual behavior encompass a wide range of activities such as strategies to find or attract partners (mating and display behavior), interactions between individuals, physical or emotional intimacy, and sexual contact.” (Perilaku seksual manusia melingkupi aktivitas yang luas seperti strategi untuk menemukan dan menarik perhatian pasangan [perilaku mencari & menarik pasangan], interaksi antar individu, kedekatan fisik atau emosional, dan hubungan seksual.)

3.       Identitas Seksual / Sexual Identity
Sementara homoseksual jika dilihat dari aspek ini mengarah pada identitas seksual sebagai gay atau lesbian. Sebutan gay digunakan pada homoseksual pria, dan sebutan lesbian digunakan pada homoseksual wanita. (Adesla, 2009)
Identitas Seksual adalah bagaimana seseorang mendefinisikan dan memperkenalkan dirinya di masyarakat mengacu pada orientasi seksual tertentu. Tidak semua homoseksual secara terbuka berani menyatakan bahwa dirinya adalah gay ataupun lesbian terutama kaum homoseksual yang hidup di tengah-tengah masyarakat / negara yang melarang keras, mengucilkan, dan menghukum para homoseksual. Para homoseksual ini lebih memilih untuk menutupi identitas mereka sebagai seorang gay ataupun lesbian dengan tampil selayaknya kaum heteroseksual. Namun tidak begitu halnya dengan EP, kepada peneliti, dengan terbuka dan terang-terangan EP mengatakan bahwa dirinya adalah seorang gay. Teman-teman EP pun menyadari dan menerima bahwa EP adalah seorang gay. Akan tetapi EP masih belum memiliki keberanian untuk mengaku pada keluarganya. (Wawancara I, 22 Maret 2013)
Identitas seksual EP sebagai pelaku gay semakin didukung oleh keterangan seorang informan berinisial T. T mengatakan bahwa EP memang seorang gay. T juga mengatakan bahwa EP sering mangkal di stasiun. (Wawancara II, 13 April 2013)
Dari paparan dan analisis data diatas, EP menunjukkan adannya perkembangan dinamika psikologis dari aspek orientasi seksual, perilaku seksual, maupun identitas seksual, sebagaimana yang telah dipaparkan sebelumnya. Dinamika psikologis EP sangat jelas terlihat perkembangannya dari rentang waktu pada masa kecil EP dan ketika EP sudah menjadi seorang mahasiswa. Jika dulu pada masa kecil EP terhalangi untuk menyalurkan hasratnya, maka ketika EP sudah mandiri dan menjadi seorang mahasiswa di Malang, EP mampu menunjukkan eksistensi dirinya sebagai seorang pelaku gay. Bahkan, dengan menjadi salah satu anggota di sebuah organisasi Ikatan Gay Malang, EP dan teman-teman seperjuangannya seperti mendapatkan “wadah” untuk menyalurkan hasrat dan keinginannya.
Bahasa Gaul
David Sonenschein (1969) melakukan penelitian terkait dengan bahasa-bahasa gaul yang ada dalam komunitas homoseksual di salah satu kota di barat daya Amerika Serikat. Selama jangka waktu satu setengah tahun di lapangan penelitian  (1961-1963), istilah-istilah khusus dikumpulkan dengan cara meminta informan untuk mendefinisikan dan menjelaskan berbagai kata dan dengan  pengamatan makna dalam interaksi pada peristiwa yang sebenarnya. Dengan menggunakan pendekatan etnografis, David menemukan adanya bahasa-bahasa gaul yang  bersifat khusus, yang merupakan salah satu cara utama di mana kelompok dapat membantu pola dan memberikan makna terhadap pengalaman anggotanya.
Hal serupa juga ada dalam komunitas gay EP. Berikut kata-kata dalam bahasa gaul yang peneliti peroleh dari EP. (Wawancara I, 22 Maret 2013)

Bahasa Gaul Dalam Komunitas EP
NO.
ATURAN
KATA DASAR
BAHASA GAUL
1.
Diimbuhi belakang s
Banci
Bences
2.
Diimbuhi belakang ong
Banci
Laki-laki
Perempuan
Bencong
Lekong
Pewong
3.
Diimbuhi –in pada setiap suku kata
Sate
Sinatine
4.
Plesetan
Makan
Lapar
Makasar
Lapangan
Hasil paparan data diatas menunjukkan bahwa memang dalam sebuah komunitas gay terdapat beberapa bahasa gaul yang terdiri dari kata-kata dasar, yang dimodifikasi dengan aturan-aturan menurut mereka sendiri. Sehinggga muncullah kata-kata gaul yang digunakan para pelaku gay untuk saling berkomunikasi satu sama lain.
4.     Simpulan dan Saran.
Dari paparan dan analisis data diatas, dapat disimpulkan bahwa EP menunjukkan adannya perkembangan dinamika psikologis dari aspek orientasi seksual, perilaku seksual, maupun identitas seksual, sebagaimana yang telah dipaparkan sebelumnya. Dinamika psikologis EP sangat jelas terlihat perkembangannya dari rentang waktu pada masa kecil EP dan ketika EP sudah menjadi seorang mahasiswa. Jika dulu pada masa kecil EP terhalangi untuk menyalurkan hasratnya, maka ketika EP sudah mandiri dan menjadi seorang mahasiswa di Malang, EP mampu menunjukkan eksistensi dirinya sebagai seorang pelaku gay. Bahkan, dengan menjadi salah satu anggota di sebuah organisasi Ikatan Gay Malang, EP dan teman-teman seperjuangannya seperti mendapatkan “wadah” untuk menyalurkan hasrat dan keinginannya.
Hasil paparan data diatas menunjukkan bahwa memang dalam sebuah komunitas gay terdapat beberapa bahasa gaul yang terdiri dari kata-kata dasar, yang dimodifikasi dengan aturan-aturan menurut mereka sendiri. Sehinggga muncullah kata-kata gaul yang digunakan para pelaku gay untuk saling berkomunikasi satu sama lain.

Daftar Pustaka
Burns, D.  Buku Pegangan Merasa Baik. (Edisi Revisi). Penguin: Harmondsworth. 1999.
Burns, D. Feeling Good:  Terapi suasana baru. (Edisi Revisi).  HarperCollins: New York. 1980.
Chaplin, J.P. (2000).  Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada.  
Christa Rohde-dachser. (1992). Male and female homosexuality, International Forum of Psychoanalysis. Male and female homosexuality. 1 (2), 67–73.
Corey, Gerald. (2005).  Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: PT.  Refika Aditama.  
David Sonenschein. (1969). The homosexual's language. Journal of Sex Research. 5 (4), 281-291.
Gorgi, A., & Giorgi, B. (2008). Qualitative psychology: a practice to research methods. ed. Jonathan A. Smith. London, Los Angeles, New Delhi, Singapore, and Whosington DC: Sage Publication
Imran, Irawati. 1999. Perkembangan Seksual Remaja. Jakarta : Badan Kesejahteraan Keluarga Berencana Nasional
Jameson K. Hirsch & Jon B. Ellis. (1998). Archieves of Suicide Research. Reasons For Living in Homosexual And Heterosexual Young Adults. 4 (3) , 243-248.
Jarvis,  Matt.  (2006).  Teori-Teori Psikologi: Pendekatan Modern untuk Memahami Perilaku, Perasaan dan Pikiran Manusia. Bandung: Nuansa.
Ledley, D., Marx, B. dan Heimberg, R.  Membuat Cognitive Behavioral Therapy. Jakarta:. Guilford Press. 2005.
Lil Penkower, PhD, Mary Amanda Dew, PhD, Lawrence Kingsley, PhD, James T. Becker, PhD, Paul Satz; PhD, Frederick W. Schaerf MD, PhD, and Kathleen Sheridan, JD, PhD. (1991). Behavioral, Health and Psychosocial Factors and Risk for HIV Infection among Sexually Active Homosexual Men: The Multicenter AIDS. Public Health Briefs. 81 (2), 194 – 196.
Linehan, M. Kognitif-Perilaku Pengobatan Gangguan Kepribadian Borderline New York: Guilford Press. 1993.
Moloeng, lexy J. 2004. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : Rosda.
Oemarjoedi, A. Kasandra. (2003).  Pendekatan Cognitive Behavior dalam Psikoterapi.  Jakarta: Kreativ Media.
Santrock, JW. (1995).  Life span Development. Perkembangan Masa Hidup. Edisi kelima jilid dua. Jakarta. Erlangga.
Sarwono, Sarlito W. (2010). Psikologi Remaja Edisi Revisi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Wikipedia. (February 22, 2009). "Homosexuality." This data retrieved from http://en.wikipedia.org/wiki/Homosexual
Wikipedia. (February 24, 2009). "Human Sexual Behavior." This data retrieved from http://en.wikipedia.org/wiki/Human_sexual_behavior
Yin, Robert K. 2008. Studi Kasus : Desain dan Metode. Jakarta : Rajawali Pers.

diposting oleh Nada Shobah dan Halimatus Sa'diyah

8 komentar:

  1. Every man deserves a pleasant and full relaxation time after his long-hour working. One of the way to reach that relaxing moment in your tiring day is to get your body massaged. Before continuing this message, let me introduce myself. My name's David, 30 year-old athletic man body. I will always ready to give a full body massage service. My current tariff for a full body massage is at RP 650.000 ($ 85) per hour per hour. For further info about the tariff and desired service required or offered, you may contact me at 081284007873/ +6281284007873. I only serve a CALL OUT SERVICE and MAN FOR MAN ONLY!

    BalasHapus
  2. Teori diatas tidak membedakan mana gender dan orientasi sexual, karena hal itu berbeda, sebenarnya yang di bahas adalah expresi gender yaitu pria yang feminin, karena pada banyak kenyataannya pria feminin tidak semua berorientasi homosexual, ada yang bisexual dan heterosexual, karena ada juga pria macho yang dalam hal ini pria maskulin yang mempunyai orientasi homosexual, jadi tulisan diatas kurang akurat apalagi yang menggunakan satu responeden yaitu EP, dan satu hal lagi ada orientasi asexual yang tidak tertari pada sesama dan lawan jenis, dalam hal ini kebalikan dari bisexual, seperti hetero kebalikan dari homo.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa tolong rekomendasikan buku2 yg harus saya baca

      Hapus
  3. Sangat membantu sekali kak info di blognya. Karena saya mahasiswa baru juga jurusan psikologi, jd msh awal bgt hrhehe

    BalasHapus
  4. Ass..bisa dikirimkan Studi kasus terkait dengan Homo seksual dan Lesbian serta bagaimana mereka merasakan birahinya.?? minta tolong ilmunya sedikit.

    BalasHapus
  5. maaf sebelumnya. saya kurang setuju mengenai hal yang menyatakan bahwa gay itu bisaa keturunan karena setau saya sudah ada penelitian yang mematahkan teori itu walaupun saya lupa baca dimana. lagi pula bukankah allah tidak menciptakan manusia dengan salah? atau pendapat saya yang salah

    BalasHapus
  6. bagi pdf bor sa,a duit seribu :(

    BalasHapus