Selasa, 12 Februari 2013

Cinta



Cinta Menurut Beberapa Ahli Psikologi :

1.      Erich Fromm, psikolog yang terkenal dengan bukunya, The Art of Loving, menulis tentang cinta tak bersyarat. Menurut Fromm, cinta tak bersyarat berhubungan langsung dengan kerinduan yang paling dalam, bukan hanya kerinduan pada anak, melainkan kepada setiap manusia. Sebaliknya, orang yang dicintai karena alasan pantas atau dianggap berhak menerima cinta selalu menimbulkan keraguan: mungkin saya tak dapat membahagiakan orang yang saya inginkan dapat mencintai saya atau mungkin selalu ada rasa cemas, jangan-jangan suatu waktu cinta akan lenyap.
2.      Cinta menurut Jhon Powell, konselor dan penasihat spiritual terdiri dari dua yaitu cinta bersyarat atau cinta tak bersyarat. Bila untuk mencintai kita memerlukan syarat, maka cinta itu bukan cinta sejati. Cinta sejati adalah harus dan merupakan hadiah yang diberikan secara cuma-cuma. Kita benar-benar cinta bila orang yang kita cintai mendapatkan cinta kita, bukan karena ia pantas menerima cinta kita. Disebut pantas karena cantik, anggun, ganteng, baik hati, dan sebagainya. Kita sadar bahwa orang yang kita cintai bukanlah orang yang terbaik, bukan orang yang paling hebat, bukan yang paling cocok.
3.      Viktor Frankl, seorang psikiatris yang riwayat dan karyanya luar biasa mengagumkan, dalam bukunya Man’s Search for Meaning berkata: “Suatu pemikiran mengubah saya: Untuk pertama kali dalam hidup, saya menyadari kebenaran dalam syair kebanyakan penyair, kebijaksanaan akhir para ahli pikir. Kebenaran bahwa cinta adalah tujuan utama dan tertinggi yang dapat dicapai manusia. Lalu, saya menangkap makna rahasia terbesar yang melingkar dalam syair, dalam pikiran dan keyakinan manusia, yaitu penyelamatan manusia diperoleh lewat cinta dan di dalam cinta.”
4.      Menurut Strenberg, setiap komponen itu pada setiap orang berbeda derajatnya. Ada yang hanya tinggi di gairah, tapi rendah pada komitmen . Sedangkan cinta yang ideal adalah apabila ketiga komponen itu berada dalam proporsi yang sesuai pada suatu waktu tertentu. Misalnya pada tahap awal hubungan, yang paling besar adalah komponen keintiman.
5.      Marslow membagi cinta itu kepada dua bentuk, yakni Deficiency atau D-Love dan Being atau B-Love. D-Love adalah mencintai sesuatu disebabkan karena suatu hal yang tidak ada pada diri dengan cintalah hal itu bisa tertutupi seperti : harga diri, seks atau karena kesendirian. Selanjutnya B-Love, Being Love didasarkan terhadap penilaian kepada orang lain apa adanya, B-Love adalah cinta yang tidak berniat memiliki, tidak mempengaruhi, cinta seperti ini membuka kesempatan untuk seseorang dalam berkembang. Jadi cinta adalah suatu proses aktualisasi diri yang bisa membuat orang melahirkan tindakan-tindakan produktif dan kreatif. Dengan cinta seseorang akan mendapatkan kebahagiaan bila mampu membahagiakan orang yang dicintainya.
6.      Elaine dan William Waster, memandang cinta sebagai suatu keterlibatan yang sangat dalam yang diasosiasikan dengan timbulnya rangsangan fisiologis yang kuat dan diiringi dengan perasaan untuk mendambakan pasangan dan keinginan untuk memuaskan tersebut melalui pasangannya itu. Sedangkan Sigmun Freud menyatakan bahwa cinta itu ,merupakan dorongan seksual yang terpendam.

Para ahli psikologi membagi pengertian cinta menjadi 3 bagian diantaranya adalah:

1.  Cinta karena nafsu
Yaitu cinta yang mengakibatkan hubungan antar dua orang tidak terkontrol lagi, emosi sangat menguasai akal sehat seseorang sehingga perilaku seolah terjadi secara spontan untuk menjawab rangsangan emosi yang berlebihan
2.   Cinta pragmatis
yaitu cinta terjadi keseimbangan antara dua orang, ada rasa suka dan duka, serta  adanya timbal balik.
3.   Cinta altruistik
biasanya terjadi pada seorang ibu kepada anaknya, cinta ini disertai kasih sayang yang tidak ada batasnya.
Cinta itu berada pada ranah emosional dan rasional. Cinta emosional ini datang dan pergi tanpa diprediksi,misalkan: aku mencintaimu pada pandangan pertama, meski aku tak bahagia bersamanya aku tetap mencintainya dll.


Senin, 11 Februari 2013

Alat-Alat Tes Psikologi


1.      Steadiness Test



Fungsi untuk mengukur kemampuan motorik halus, antara lain kemampuan mengarahkan gerakan tangan, tingkat gemetar (tremor), presisi, dan kecepatan gerakan tangan atau lengan serta ketangkasan jari.

2.      Reaction Time Bunyi
Untuk mengetahui tingkat konsentrasi dan fungsi pendengaran

3.      Reaction Time Cahaya
Untuk mengetahui tingkat konsentrasi dan fungsi penglihatan

4.      Mirror Drawing Manual
Untuk mengetahui kemampuan memahami ruang bidang

5.      Finger Dexterity
Untuk mengetahui kemampuan, koordinasi antara kognitif dan psikomotorik

6.      Depth Perception
Alat ini berfungsi untuk menguji kemampuan orang untuk melakukan persepsi kedalaman. Persepsi kedalaman ini sangat berguna untuk arsitektur, sopir atau mereka yang banyak bekerja di bidang spasial atau tuang bidang.

7.      Ilusi Pogendoft
Untuk mengetahui kemampuan ketepatan stimulus (Persepsi)

8.      Ilusi Muller Lyer
Alat untuk membuktikan ilusi.  Alat ini berfungsi untuk eksperimen bahwa individu sering mengalami ilusi terkait dengan bidang 2 dimensi

9.      Modifikasi Rotary Persuit
Untuk mengetahui kemampuan ketepatan stimulus (Persepsi). Terutama fungsi penglihatan dan koordinasi kognifif dan psikomotorik

10.   Mirror Drawing Digital
Untuk mengungkap aspek kemampuan aspek ruang bidang dan proyeksi cahaya

11.   Bayangan Purkenye
Mengetes apakah seseorang mengalami Gangguan pada sel Purkinye (gangguan penglihatan) dapat terjadi secara primer atau sekunder. Hal itu terjadi karena bola mata terlalu panjang dan bayangan benda

12.   Attention Distraction Skinner Box Authomatic
Stimulus -> Respon

13.   Rotary Persuit
Alat ini untuk mengukur koordinasi mata. Fungsinya macam-macam.